Selamat Datang Diblog Orang Pinggiran

Translate

About Me

Pengikut

Search

Label

Senin, 19 November 2012

Sajak Rindu Orang Pinggiran


AKU DAN RINDU

Aku mendayung rindu dalam lautan airmata.
Perahu gabus membawa rinduku,
gemuruh dalam debur lagu.
Lagu ombak terbawa arus, laguku juga.
Lagu sendu senjakala.

Andai perahu gabusku belum merobek
cakrawala.
Aku ingin menepi.
Ingin kujual saja rinduku 
pada penjual pinang di tepi labuan
Biarlah menjadi noda dalam warnanya
Ingin kuberikan saja rinduku 
pada anak-anak pesisir.
Biarlah menjadi bola dan tersepak jauh kaki-kakinya.

INGIN KUTERBANGKAN RINDUKU

Ingin kuterbangkan rinduku
Sebab bumi tak lagi punya ruang untuknya
Sebab laut telah penuh sampah cinta
Sebab jiwa tak lagi kuasa menanggungnya.
dan alam sadar pun tak mampu menampungnya

biarlah rinduku terbawa dalam dunia maya..

RINDUKU KEBINGUNGAN

# Part 1
mendulang angin di ufuk senja
berharap bonggah dalam sepoi
secarik bias di riak malam
hening, senyap menyapu ubun

tengada daku pada awan
yang hampir mengkerutkan jidat
gundah gulana menyerang batin
hening, senyap menyapu ubun..
#Part 2
lenting demi lenting jemari menyapu dawai
merujuk pada sebuah tangga nada
menuai sebuah alunan puisi
yang menerawang di langit senja
terpenjara hasrat dalam kecewa.
rinduku kebingungan

#Part 3
Sudah satu malam rinduku terbang
Bergumul dengan awan
Bergumul dengan hujan
Tak tau jalan pulang
Rinduku kebingungan,, :-)
mencari tempat peraduan.. 




Tekad Baru: Hidup yang Polos-Polos Saja

Oleh Dahlan Iskan
Menteri Negara BUMN

Saya tidak menyangka persoalan seperti utang negara, impor garam, dan sulitnya swasembada gula sudah menjadi bisik-bisik tetangga di desa. Padahal, desa ini berada di lereng Gunung Ciremai nun di Kabupaten Kuningan, Jabar. Saya beruntung Jumat malam lalu bisa bermalam di Desa Bunigeulis dan berdialog dengan ratusan penduduk setempat.

Mengapa penduduk desa sampai gelisah dan pusing memikirkan utang negara? Bahkan impor garam? Ternyata ada virus yang menjalar cepat: virus informasi setengah matang. Mereka hanya tahu sepotong tentang utang negara: jumlahnya yang meningkat.
Saya minta seorang peserta dialog untuk berdiri. Saya ajukan pertanyaan padanya: baik mana, Anda punya utang

Minggu, 18 November 2012

SAJAK ORANG GILA


By Saparadi Djoko Damong

I
aku bukan orang gila, saudara
tapi anak-anak kecil mengejek
dan orang-orang tertawa

ketika kukatakan kepada mereka: aku temanmu
beberapa anak berlari ketakutan
yang lain tiba melempari batu


II
aku menangis di bawah trembesi
di atas dahan kudengar seekor burung bernyanyi
anak-anak berkata: lucu benar orang gila itu
hari muput menangis tersedu-sedu
orang-orang yang lewat di jalan
berkata pelan: orang itu sudah jadi gila
sebab terlalu berat menapsir makna dunia


III
sekarang kususuri saja sepanjang jalan raya
sambil bernyanyi : aku bukan orang gila
lewat pintu serta lewat jendela
nampak orang-orang menggelengkan kepala mereka:
kasihan orang yang dulu terlampau sabar itu
roda berputar, dan ia jadi begitu


IV
kupukul tong sampah dan tiang listrik
kunyanyikan lagu-lagu tentang lapar yang menarik
kalau hari ini aku tak makan lagi
jadi genap sudah berpuasa dalam tiga hari


Tapi pasar audah sepi, sayang sekali
tak ada lagi yang memberikan nasi
Kemana aku mesti pergi, ke mana lagi


V
Orang itu sudah lama gila, kata mereka
Tapi hari ini begitu pucat nampaknya
Apa kiranya yang telah terjadi padanya
Akan kukatakan panda mereka: aku tidak gila!
Aku Orang lapar, saudara


VI
Kudengar berkata seorang ibu:
Jangan kalian ganggu orang gila itu, anakku
Nanti kalian semua. diburu
Orang kota semua telah mengada—ada, aduhai
Menuduhku seorang yang sudah gila
Aku toh cuma menaangis tanpa alasan
Tertawa-tawa sepanjang jalan
Dan lewat jandela, tergeleng kepala mereka:
Kurus Benar sejak dia jadi gila

Sabtu, 17 November 2012



Pada kenyataannya, icon program kesejahteraan yang menjadi jargon masing-masing daerah, belum maksimal dijalankan secara totalitas. Sebagian kalangan menganggap hal itu baik walau masih dalam janji yang perlu diedit. Seperti yang telah dikampanyekan para pemimpin daerah negeri ini, misalnya di sejumlah daerah dengan icon program yang teramat sangat baik, daerah tersebut masih di landa keterpurukan baik itu ekonomi maupun social.

Kita dapat melihatnya dengan jelas ada Provinsi Bangka Belitung dengan program pemberdayaan Perikanan, Provinsi DIY dengan icon Falsafah Hamemayu Hayuning Bawana mengandung makna sebagai kewajiban melindungi, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat di bidang Ilmu pengetahuan dan teknologi, Provinsi Riau dengan program Padat Karya bagi Desa-desa miskin, Provinsi Sulsel dengan program Pendidikan dan kesehatan gratis, Provinsi Jawa Barat dengan pembangunan dari sector kewilayahan, Provinsi NTB dengan program Pengembangan Bumi Pijar ( Sapi, Jagung dan Rumput laut ) serta Papua dengan Program Respek (Rencana Strategi Pembangunan Kampung ) dan masih banyak provinsi yang memiliki mimpi besar untuk mensejahterakan rakyatnya. Apakah jargon-jargon tersebut membawa rakyat pada harapan yang baik, ataukah hal itu sebagai pelengkap gap mengenai yang kaya semakin kaya dengan korupsi sedang yang miskin tetap mengambil jatah keterpurukan.

Sejak pemekaran provinsi yang diawali pada 12 oktober 1999 oleh provinsi Maluku Utara dan di ikuti daerah lainnya di penjuru wilayah negeri ini, dan hingga sekarang dengan jumlah provinsi sebanyak 33 provinsi dan total jumlah penduduk + 234,2 juta jiwa, terkesan kita masih merayap mengurusi kesejahteraan rakyat, hal itu dikarenakan demokrasi belum di maknai satu sebagai keutuhan yang kokoh. Pada kenyataannya demokrasi itu sendiri masih berlabel tanda petik, bukan lagi rahasia umum bagi peguasa yang menganggap demokrasi sebagai sarana membangun kesejahteraan rakyat, namun tak jarang penguasa yang mentasbihkan demokrasi sebagai sarana membangun hegemoni kekuasaan dengan program mengumpulkan kekayaan pribadi. Sudah saatnya kita mengkampanyekan terwujudnya masyarakat cerdas yang dapat melihat dengan benar, apa itu demokrasi. Harapan kita semua sebagai pemilik tanah tanah ini, momentum demokrasi yang sebentar lagi di gelar khususnya di provinsi papua akan meniupkan lambaian kecerahan bahwa demokrasi belum usai karena sebuah keyakinan telah membisikkan kita semua akan lahirnya pemimpin baru papua yang jujur dan bertanggungjawab.

Universary #1

Senin pagi tepatnya pukul 09.00 WIT, handponeku berbunyi. Dengan mata yang masih setengah tertutup saya merogoh handphoneku yang tersembunyi di balik bantal. Halooo, dengan siapa?? sapa ku.
selamat pagi kaka, dengan Fransiskus kaka.
Gimana rencana ketemu dengan Ibu Kansiana, jadi tidak..?
o iyaa,, jadi jadi..kita ketemu di kantor ya..
ok, di tunggu ya ka".

saya pun bergegas dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Pukul 11.00 waktu Papua, kami bertemu di kantor Dinas Pengembangan INFOKOM Provinsi. 30 menit menunggu,  kami pun bertemu dengan Ibu Kansiana dan percakapan pun dimulai. kedatangan kami hanya untuk meminta bantuan dari dinas PTIK untuk mebiayai keberangkatan Fransiskus ke jakarta mewakili komunitas IT Papua dalam acara Internet Goverment Forum  yang di selenggarakan oleh Kemen KOMINFO. kurang lebih 15 menit pertemuan itu, mendapat tanggapan yang positif alias kami dibantu. Kami pun keluar dari ruangan Ibu kadis dengan wajah riang.

Rencana baru pun tersusun pada saat meninggalkan kantor DPTIK Provinsi. dengan motor buntut milik Koordinator Relawan-TIK, kami pun melaju membelah jalan di bawa terik mentari yang panasnya mengeringkan tenggorokan. Kami pun bersepakat untuk rehat sejenak di skyland. Skayland adalah tempat nongkrong masyarakat jayapura disiang hari dengan suguhan es kelapa dan pemandangan pulau dan laut yang indah. yah, pilihan tepat untuk menghilangkan dahaga. setelah meneguk es kelapa, sambil menunjukan scedul kegiatan, Fransiskus pun mulai membuka percakapan terkait hal-hal yang akan di sampaikan pada saat kegiatan nantinya. Ada tiga poin penting hasil percakapan kami; kondisi kultur masyarakat papua dalam menghadapi pengembangan IT, Pengembangan SDM Papua di bidang IT dan Pemanfaatan IT.

adzan Ashar telah di kumandangkan. menunjukan waktu telah menunjukan pukul 16.15 waktu Papua. kami pun bergegas meninggalkan Skayland menuju Abepura.
dalam perjalanan, fransiskus memulai lagi percakapan;
kaka, hari ini ulang tahun bloger cendrawasih yang pertama. za harap kaka bisa hadir dalam acara syukurannya. saya pun merespon dengan satu kata, siap.
dalam hati saya, ngapain saya hadir, ngumpul bareng anak2 bloger tidak pernah. Parahnya lagi, saya masih awam dengan penggunaan bloger,,,hmm.. Namun semua pikiran itu sirna ketika melihat semangat mereka untuk belajar dan berkarya demi pengembangan sumber daya manusia Papua di bidang IT.

semangat untuk tetap belajar dan berkarya demi pengembangan diri dan untuk kemajuan Tanah Papua,  tampak jelas pada saat kami semua berkumpul di rumah adik Sumo yang juga berulang tahun pada hari itu (29 Oktober 2012). walaupun hanya berjumlah 11 orang, tapi tidak mengurangi semangat dan komitment mereka untuk tetap belajar demi kemajuan Papua. hal ini pun di sampaikan oleh ketua bloger Cenderawasih,  Fransiskus Xaverius Kobepa saat menyampaikan sambutan. harapannya, komunitas ini akan melahirkan putra/ putri papua yang berkompeten dan mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.
 
Tanah yang kekayaan alamnya melimpah ruah. Hutan, gunung, laut dan danau merupakan Anugrah dari sang Pencipta kepada mereka. Namun, kekayaan alam tanah ini, tidak menggambarkan kesejahteraan masyarakatnya. sungguh sangat disayangkan. hingga saat ini, Papua menjadi perhatian nasional dan internasional. oleh karena itu, suka tidak suka, mau tidak mau, kita sudah harus menyiapkan diri sekarang untuk menghadapi perkembangan teknologi yang sangat pesat. jika tidak, kita akan tertindas dan di jajah, sambung kaka Syaifudin M. Songyanan, S. Kom selaku pembina Bloger dalam sambutannya.

semangat untuk belajar dan berkarya dari merekalah yang memotivasi saya untuk belajar hal yang baru. yah, saya harus bisa buat blogger. saya pun bergegas dengan rekan-rekan menju sekretariat blogger.
tanpa basa-basi, saya langsung meminta adik Aldo untuk membimbing saya dalam membuat blog. dalam beberapa jam, saya pun bisa membuat blog hingga memposting tulisan ini. sungguh sesuatu yang luar biasa. hal yang tidak pernah saya suka bisa saya lakukan. Puji Tuhan.
ternyata, tidak ada yang tidak mungkin dan tidak ada kata terlambat untuk belajar ketika kita mau melepaskan ego kita untuk bersungguh-sungguh melakukannya, karena yakin dan percaya,  Tuhan pasti memberikan jalan.

OTSUS TAK SAMA DENGAN UANG

Habelino Seradora Sawaki,  SH
 Oleh: Habelino Seradora Sawaki, SH 


 *Mu'saad: Banyak Subtansi Otsus Belum Dilaksanakan

 Kabar Indonesia – Gerakan Mahasiswa Papua Indonesia (GMPI) memandang bahwa Otsus Papua yang pelaksanaannya telah memasuki 8 tahun, masih relevan untuk dijadikan sebagai solusi dalam penyelesaian sejumlah masalah krusial di Papua. Ketua Dewan Pembina GMPI Dr. H. Mohammad A. Musa'ad, M.Si mengungkapkan, setiap tahun pada 21 November yang merupakan tanggal pengesahan UU Otsus Papua, harus dijadikan momentum untuk melakukan retrospeksi dan prospeksi terhadap pelaksanaan kebijakan Otsus Papua. Terkait hal itu, setiap 21 November Musa’ad yang ikut berperan dalam penggagasan dan pencetusan Otsus Papua selalu melakukan kegiatan diskusi, dialog dan curah pendapat guna menghasilkan kajian kritis atas perjalanan Otsus Papua dari tahun ketahun. Mencermati dinamika social politik di Papua, memasuki 8 tahun pelaksanaan kebijakan Otsus, Musa’ad, sesuai kompetensi yang dimilikinya menyampaikan beberapa hasil penelitian dan kajian yang perlu dipahami dan disikapi semua komponen bangsa, di antaranya pertama, dari segi perspektif idiil normatif Otsus masih relevan menjadi solusi dalam penyelesaian masalah di Papua. Hanya saja dalam perspektif factual emperik kondisinya justru mencemaskan. "Yang terjadi di lapangan banyak subtansi yang terdapat dalam UU Otsus belum mampu dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. 

Banyak pihak terutama penyelenggara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/ Kota sampai saat ini belum memahami secara konprehensif filosofi dan subtansi UU. Ironisnya, image Otsus masih dipahami sebatas uang dan belum pada subtansi yang sesungguhnya," ujar Mu'saad. Dikatakan, perbedaan persepsi dan pemahaman, rendahnya komitmen serta kebijakan yang keliru (overlapping) merupakan bukti pembenaran atas ketidak konsistenan dan konsekuennya pelaksanaan materi muatan yang diamanatkan dalam UU Otsus. Kendati pelaksanaan kebijakan Otsus belum efektif (kacaubalau), Musa’ad merasa perlu memberikan apresiasi terhadap segala upaya yang dilakukan berbagai pihak dalam mendorong pelaksanaan Otsus. Hanya saja, perlu diingatkan bahwa upaya tersebut harus dilakukan secara simultan dan komprehensif, bukan parsial (sepotong-potong) serta memperhatikan nilai dasar, prinsip dasar serta materi muatan Otsus secara konsisten. Hal itu perlu dilakukan agar tidak terjadi pembiasan yang mengarah pada kontra produktif terhadap upaya-upaya guna mewujudkan efektivitas pelaksanaan Otsus Papua. 

Tujuh nilai dasar yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan Otsus adalah: Pertama, pemberdayaan orang asli Papua, demokrasi dalam kedewasaan, supremasihukum, etika moral, perlindungan/ penegakan HAM, penghargaan terhadap kemajemukan dan kesamaan hak sebagai warga negara. Sedangkan prinsip-prinsip yang tidak boleh diabaikan dalam pelaksanaan kebijakan Otsus adalah, proteksi terhadap orang asli Papua dalam batas waktu tertentu, kebijakan keberpihakan, pemberdayaan, bersifat universial dan adanya accountabilitas publik. "Jadi Otsus ini berlaku untuk semua orang Papua, hanya saja perlu adanya kebijakan-kebijakan khusus bagi orang asli Papua dalam bentuk proteksi, keberpihakan dan pemberdayaan," ujarnya. Kedua, GMPI memberikan apresiasi atas pembahasan sejumlah Raperdasi dan Raperdasus oleh DPRP dan Pemprov, termasuk yang sudah ditetapkan. Namun begitu, GMPI menyayangkan karena sebagian besar Perdasi tersebut ternyata bukan merupakan amanat Otsus, bahkan terdapat Perdasi danPerdasus bertentangan dengan filosofi dan subtansi Otsus Papua. Misalnya, UU Otsus yang mengamanatkan 11 Perdasus dan 17 Perdasi sebagai peraturan pelaksanaan dan penyusunannya harus dibuat dalam skala prioritas tertentu. Sebab, terdapat penyusunan Perdasus dan Perdasi tertentu menjadi landasan bagi penyusunan Perdasus dan Perdasi yang lain. Ketiga, mengenai munculnya wacana parpol lokal, dijelaskan bahwa dalam UU Otsus Papua tidak dikenal Parpol lokal, namun penduduk Provinsi Papua dapat membentuk Parpol. Pembentukan dan keikutsertaanya dalam Pemilu berdasarkan peraturan perundang-perundangan yakni UU Parpol dan UU Pemilu. Karena itu, pembentukan Parpol local hanya dapat dilakukan jika tercantum dalam UU Parpol dan UU Pemilu dan atau revisi UU Otsus Papua. 

Mengenai kebijakan affirmatif terhadap orang Papua, bagi Mu'saad hal itu merupakan suatu strategi yang cerdas dalam mendorong akselerasi pembangunan SDM Papua, hanya kebijakan ini harus dilakukan dengan hati-hati serta memperhatikan prinsip dasar kebijakan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar nantinya penerapan kebijakan itu tidak mengarah pada tindakan diskriminasi dan atau pelanggaran HAM. Berkaitan dengan maraknya aspirasi masyarakat menginginkan pemekaran daerah atau pembentukan daerah otonom baru provinsi atau kabupaten, GMPI memandang bahwa hal itu merupakan trend yang terus mengalami penguatan. Karena itu dibutuhkan kreativitas Pemda untuk mendesain suatu strategi penataan daerah di Provinsi Papua dalam waktu 20 atau 25 tahun kedepan, dengan memperhatikan berbagai aspek, yakni proses, format, keserasian, kesatuan budaya, sumberdaya ekonomi dan prospek pengembangan. "Evaluasi Otsus yang telah dilakukan 2 kali oleh Pemprov dengan Uncen tahun 2007 dan Pemerintah Pusat melalui Depdagri dengan kemitraan untuk kerjasama pembaharuan pemerintah 2008 sebagian besar masih difokuskan pada evaluasi terhadap pengunaan dana Otsus belum pada kebijakan yang seharusnya ditujukan pada Pemerintah Pusat maupun Provinsi sesuai kewenangan dan kewajiban masing-masing dalam melaksanaan Otsus. 

Sementara itu, Ketua Bidang Internal Pengurus Besar GMPI, Hugo Al. Karubaba mengajak seluruh komponen bangsa di Papua untuk bersama-sama membangun tanah Papua dalam konteks NKRI melalui kebijakan Otsus. Sebab, sesungguhnya orang Papua sendiri yang mempermalukan dirinya sendiri dimana disaat dana Otsus dimanfaatkan, rakyat Papua ada yang bersikap menolak Otsus, bahkan ada yang menuding Otsus. Padahal rakyat Papua atau para pejabat di Papua baru mengalami perubahan hidupnya di Tanah Papua setelah ada Otsus. "Makanya orang-orang yang mengatakan seperti ini sesungguhnya sangat berdosa, karena menipu dirinya sendiri dan kepadaTuhan. Padahal para penyelenggara Otsus ini diberikan amanah dari rakyat untuk mengemban misi dengan harapan agar kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin," pungkas Hugo yang juga KetuaUmum Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Uncen. Hanya saja yang terjadi selama ini adalah ketidakpastian. Harus disadari membangun Negara atau daerah adalah sistem bukan ego.Yang menjadikan sistem itu berdaya guna untuk rakyat adalah, ketika sistem itu menjadi tertulis. Namun yang terjadi selama Otsus berjalan, tidak ada satu sistem pun yang tertulis. UU Otsus hanya bisa dilaksanakan jika subtansi dalam UU itu yakni bagian yang memerintahkan adanya Perdasi dan Perdasus harus dilaksanakan. Tapi, jika Perdasi dan Perdasusnya saja belum ada, apa yang mau dilaksanakan. Bicara Otsus itu gagal atau tidak memang belum berjalan.Yang berjalan selama ini hanya uangnya saja, sementara produk-produk lain sebagai pelaksanaan Otsus belum ada. Karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut perlunya diadakan dialog bersama untuk merevitalisasi dan memperkuat kembali pelaksanaan Otsus baik menyangkut sistemnya, peraturannya maupun berbagai aspek lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan Otsus itus endiri. (*)

Site search

    Categories

    Unordered List

    More Text